DI tengah kesibukan dunia ini yang makin lama makin berkutat dengan “kenyataan-kenyataan” hidup, menyelesaikan sebuah fiksi adalah suatu kemenangan yang patut dirayakan. Akhirnya saya sempat nonton sore, film yang banyak orang bilang bagus dan yang istri saya berulang kali tanyakan mengapa saya tak kunjung menonton film itu.
Ternyata benar adanya bahwa film tersebut bagus. Lebih tepatnya: indah.
Bercerita tentang film timeloop yang bukan terjebak, tapi malah dipilih. Sore (diperankan Sheila Dara yang aktingnya manis luar biasa) berulang kali berupaya mengulang-ulang segmen kehidupan demi menyelamatkan Jonathan dari gaya hidup buruknya yang berujung pada serangan jantung.
Kalimat pembuka yang sungguh ikonik: “Halo, aku sore: istri kamu dari masa depan”. Jonathan juga cukup menyenangkan buat saya. Suka berpetualang sendiri bahkan sambil menulis catatan di note pribadinya.
Film ini mengingatkan lagi sih sebenarnya dengan sebuat kutipan yang selalu buat saya berpikir dalam sekaligus was-was dan tertohok, yakni sebagai orang tua, terutama bapak, semua tahu bahwa bapak rela mati untuk anaknya, tapi apa rela hidup juga? Rela hidup yang berarti: jaga kesehatan.
Wah post ini jadi random dan nggak beraturan arahnya. Namun, senang bisa mengonsumsi sebuah fiksi lagi. Semoga makin banyak fiksi sebagai penawar kenyataan kehidupan harian ini. Semoga kita semua diberkahi.
Beberapa waktu lalu, saya sempat mengalami kekecewaan. Pasalnya, ada satu riset yang sungguh-sungguh telah saya kerjakan selama berbulan-bulan. Sampelnya mencapai 400 orang tua dan bahkan saya harus melakukan wawancara karena studinya, yang menurut saya, meskipun topiknya bukan hal yang baru-baru banget, tapi tetap lumayan kompleks buat saya.
Sejujurnya saya tidak pernah terlalu percaya diri juga, tetapi memang sakit hati dan kekecewaan datang dari sebuah ekspektasi. Di tahun 2013, saya jadi satu-satunya pemenang award penghargaan yang berasal dari pribadi, sementara pemenang lain adalah wakil afiliasi dari institusi pendidikan. Nah, di tahun ini: saya tidak berhasil masuk ke kategori presentasi oral dan penelitian saya masuk ke kategori presentasi poster.
Sungguh kecewa sejujurnya. Sempat jadi pemenang di kategori oral tahun lalu, tetapi kini bahkan tidak masuk ke daftar presentasi oral. Kira-kira dua tiga hari saya sedikit murung hingga istri saya paham saya kecewa.
Bagaimana dengan hari ini?
Memang seiring berjalannya hidup, kita tampaknya bisa makin tahu bahwa yang namanya sedih hanyalah suatu emosi. Emosi tentu tidak bisa ditolak. Mau tidak mau, pasti suatu peristiwa akan datang dengan emosi yang ditimbulkannya. Namun, kini emosi itu makin lama makin berkurang sampai jadi ke tahap jarang-jarang. Masih kecewa karena tidak lolos ke presentasi oral, tapi kini sudah terasa “ya sudah lah, namanya juga usaha”.
Beberapa bulan ini saya lagi sering dengar lagu Dewa 19 yang berjudul Hidup adalah Perjuangan. Ah, tentu saya dengar lagu itu karena ingin semangat saja agar terus berjuang setiap hari dalam hidup ini. Namun, saya jadi mengulang-ulang bait-bait pertama band legendaris itu yang berbunyi:
“Kemenangan hari ini bukanlah berarti kemenangan esok hari; Kegagalan hari ini bukanlah berarti kegagalan esok hari.”
Lagu itu memang benar adanya.
Beberapa hari lagi saya berangkat ke Bali untuk hadir di acara itu. Tadinya mau tidak datang karena gengsi dong, sebelumnya menang presentasi oral, kini datang di presentasi poster. Untung saya memutar lagi lagu itu. Bahwa kegagalan hari ini bukanlah berarti kegagalan esok hari, bukan? Nanti saya ceritakan setelah saya selesai ya. Semoga saya masih bisa merayakan pencapaian sekecil apapun dan diberikan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
Puluhan tahun hidup, memberi kesimpulan bahwa saya senang dengan bulan puasa. Pengalaman-pengalaman masa lalu mengenai bulan puasa rata-rata menyenangkan. Ketika kecil, ada hari libur. Ketika SMA, banyak acara buka puasa dengan teman-teman. Ketika sekolah di Jogja, setiap tahun saya dan angkatan punya agenda buka puasa yang seru dan intimate sekali. Di Jogja juga, senang rasanya saya dan istri dulu rutin hunting hotel untuk berbuka puasa karena harganya yang ekonomis. Ketika kerja di Puskesmas juga, bulan puasa menyenangkan karena jam pulang kerja jadi lebih cepat sehingga bisa keluyuran main tanpa kemacetan. Sungguh, bulan puasa menyenangkan.
Namun, dengan jujur mengatakan, hari raya berkesan berbeda dengan bulan puasa. Pengalaman-pengalaman masa lalu mengenai hari raya membuat saya kurang nyaman menjalaninya. Sewaktu kecil, tentu melelahkan kesana kemari bertemu ratusan orang. Cara keluarga besar memperlakukan juga membuat saya kurang nyaman menjalani hari-hari itu. Belum lagi tentang jadi rebutan tentang “mau menghabiskan hari raya dimana?” karena kedua orang tua saya berpisah sehingga ada dua keluarga besar yang harus dikunjungi. Alhasil, lelah.
Oleh karenanya, ketika empat tahun bersekolah dulu, saya tidak pernah pulang ke Jakarta pada hari raya dan baru berkunjung setelah hari raya tersebut selesai. Istri saya cukup menyadari bahwa ketika hari raya semakin dekat, kadang saya jadi agak was-was. Berbeda sekali dengan dirinya yang senang sekali dengan hari raya dan menanti-nanti berkumpul dengan keluarganya.
Namun, yang namanya hidup sebagai orang dewasa tentu jadinya tidak semata-mata tentang hidup sendiri. Saya masih jadi anak dari orang tua saya, sehingga tentu saya masih harus menemani beliau bertemu keluarga besarnya. Saya juga kini seorang suami, sehingga harus menemani istri berjumpa dengan keluarganya. Saya tidak benci hari raya, hanya ada sedikit perasaan tidak nyaman yang bersumber dari pengalaman-pengalaman lampau tadi.
Apa yang terjadi pada hari raya tahun ini?
Pertama-tama, kami kesiangan bangun sehingga tidak jadi ikut salat ied.
Kedua, tentu foto keluarga yang mandatory dengan baju lebaran yang istri sudah siapkan sebulan lalu. Saya senang lihat dia semangat memilih baju untuk sekeluarga dan jadinya ikut kasihan juga karena tidak semua baju akhirnya terpakai karena anak bungsu kami sakit sehingga kami putuskan tidak bepergian di hari kedua lebaran.
Ketiga, saya sempat-sempatnya visit pasien terlebih dahulu ke rumah sakit karena ada pasien yang butuh penanganan dan di hari kedua lebaran masih harus menangani bayi baru lahir. Ketika di jalan, ban mobil pecah di jalan tol. Sempat panik beberapa menit, tapi untungnya bisa ditangani dengan meninggalkan mobil di mall terdekat untuk malamnya datang lagi bersama teknisi (saya lumayan amazed bahwa saya bisa tenang mengatasinya).
Keempat, saya pergi ke PIM dimana keluarga besar saya berkumpul. Sungguh, saya tampaknya di kemudian hari akan mencontoh ritual keluarga ibu saya dimana kumpul Idulfitri dilakukan di restoran besar mall saja sehingga tentu urusan-urusan domestik jadi tidak begitu repot selayaknya di rumah.
Kelima, mulai hari kedua, saya menghabiskan banyak waktu bersama dengan keluarga saya. Sungguh momen yang membahagiakan karena jadwal poli saya libur dan jadwal kantor saya juga libur. Hanya ada beberapa momen visit pasien ke rs. Sisanya, bercanda habis-habisan sama anak dan istri. Sungguh momen mahal dan tampak sekali istri serta anak saya senang bukan main bapaknya libur.
Demikian hari raya 2025 saya. Selamat Idulfitri untuk teman-teman sekalian. Mohon maaf lahir batin. Semoga teman-teman sekalian (dan saya) diberikan pengalaman-pengalaman yang menyenangkan di bulan puasa dan hari raya.
Saya masih ingat betul bahwa semua dimulai di tahun 2010. Pada tahun tersebut, saya sungguh rajin baca buku. Pada masa itu pula, pikiran masih jernih dan kosong sehingga mudah sekali dirasuki berbagai ide-ide baru, syukurnya ide-ide yang bagus dari buku-buku. Di periode tersebut juga, sungguh hidup saya susah. Tampaknya saya adalah satu-satunya mahasiswa kedokteran di kelas saya yang tidak punya laptop serta makan kadang pakai kerupuk. Wah, terbayang kan saya jadi punya banyak keinginan dan cita-cita di kala itu.
Tahun 2010 itu akhirnya saya membuat #lifegoal saya di sebuah kertas besar. Teman sekamar saya jadi saksi tentang impian-impian yang saya tulis di kertas tersebut. Bahkan luar biasanya, setahun lalu saya menemukan kertas tersebut dan terkekeh sendiri mengingat betapa lucunya saya. Namun, di sisi lain sungguh saya disadarkan pula ketika teman sekamar saya itu bilang: “Bersyukur ya, Dam. Impianmu sudah banyak yang terwujud”.
Di kertas #lifegoal itu, ada puluhan keinginan yang saya tulis. Ada keinginan mulia seperti menyelesaikan Alquran serta memahami isinya, pergi haji di usia 40 tahun, dan salat tepat waktu. Ada pula keinginan punya barang seperti: punya motor (entah mengapa saya tidak menulis punya mobil karena dulu saya berpikir tidak butuh mobil), punya kamera, pergi ke bali, dan pergi ke luar negeri. Tentu pula ada keinginan-keinginan signifikan seperti lulus cumlaude, jadi duta muda asean (dulu ada pemilihan ini haha), menerbitkan artikel di jurnal, jadi spesialis sebelum usia 30 tahun, dapat beasiswa, atau bahkan jadi abang none.
Ajaibnya, meski ada yang belum tercapai, ada yang tak mungkin tercapai, dan ada yang meleset tercapai, sungguh Tuhan mendengar doa-doa yang saya tulis. Ajaib karena kalau dipikir-pikir tampaknya semuanya tak mungkin tercapai tanpa kuasa-Nya.
Ketika dikaitkan dengan buku-buku yang pernah saya baca, dikatakan bahwa menulis cita-cita kita tampaknya membuat kita sungguh-sungguh memikirkannya dan pada akhirnya secara sadar atau bawah sadar membuat kita mengupayakannya. Pada kasus hidup saya kemarin-kemarin, hal ini mungkin ada benarnya ya.
Kini, di tengah saya yang sudah dewasa, saya jadi berpikir-pikir, “Duh, masa saya harus menulis-nulis demikian lagi?”. Namun, ketika merefleksikan pikiran saya yang seolah otopilot karena kesibukan sehari-hari, mungkin memang ada baiknya ditulis-tulis lagi meski tampak picisan. Siapa tau, saya jadi lebih jelas untuk menentukan: sebenarnya apa lagi yang ingin saya kejar.
Malam ini, saya mau mencoba menerka-nerka dan berpikir dalam tentang jawaban dari pertanyaan itu. Esok lusa atau suatu nanti, mungkin saya coba tuliskan tentang hal tersebut.
Beberapa hari ini, saya sedang sakit. Sudah menjadi kebiasaan di keluarga kecil saya bahwa ketika saya sedang sakit, daripada menularkan penyakit saya ke istri yang sedang hamil dan anak pertama kami, maka saya memutuskan tidur terpisah dulu di kamar yang berbeda biar tidak berinteraksi dulu dengan mereka.
Pada beberapa hari yang padahal singkat ini, dalam kesepian dan kesunyian, pikiran saya jadi kemana-mana. Namun, bukan berandai tentang masa depan seperti yang dilakukan ketika muda dulu, tetapi mencoba mengeluarkan kembali rekaman-rekaman tentang masa lalu dan bagaimana diri saya ketika muda dulu. Murakami mungkin benar bahwa “memories are maybe the fuel we burn to stay alive“, tapi saya baru menginjak 34 tahun. Sudah waktunya kah berada pada fase ini?
Mungkin ini pikiran-pikiran bawah sadar yang memohon untuk dikeluarkan kepada diri sendiri. Memutar rekaman masa lalu tadi, saya jadi sedih sendiri mengingat bahwa saya kini kurang piawai untuk tidur dengan baik, padahal dulu (bahkan ketika sekolah spesialis) saya tidur amat teratur; saya juga sedih ketika mengingat hanya 1-2 buku cerita yang saya baca tiap tahunnya, padahal bisa puluhan di masa lalu; menulis sudah tidak usah ditanya, pasti sangat jarang; dan tentunya bertemu teman-teman baik yang sudah bertahun-tahun tidak dijalankan. Suram.
Namun, rasa suram ini tampaknya tertutup oleh keseharian dalam tahun-tahun belakangan. Mungkin ini yang dinamakan menjadi dewasa. Setiap hari saya bangun pagi, bekerja di tempat satu untuk pindah ke tempat lainnya, lalu lanjut kuliah, kemudian tidur untuk masih mengamati laporan pekerjaan. Kini, tidak ada lagi fiksi. Yang ada adalah realitas tentang butuh uang, cari uang, beri uang, sediakan waktu untuk keluarga, berbakti pada orang tua, dan segala macam masalah yang solusinya ada di realita. Setiap hari adalah kejar-kejaran. Dan setiap akhir pekan adalah mengejar waktu untuk orang lain.
Malam ini saya merindukan membaca. Merindukan menulis. Dulu, kegiatan ini adalah pelarian dari hidup susah yang saya alami. Fiksi juga jadi pelarian saya dari sekolah yang harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan penuh eksakta.
Terlebih dari pada itu, saya rindu juga sama diri sendiri. Baik-baik ya, Damar.
Beberapa waktu lalu, salah satu keinginan saya, yang sudah lama direncanakan, akhirnya bisa terlaksana: naik gunung!
Saya selalu amazed dengan orang-orang yang sering mendaki gunung. Dengan sungguh-sungguh, saya mendengarkan teman saya seperti Faiz Farhan dan Anindito Baskoro bercerita mengenai pengalaman mendakinya. Mulai dari napas yang tersengal, kedinginan luar biasa, jalan mendaki yang mematikan, jalan menurun yang mematikan juga, hingga cerita-cerita ajaib yang mereka alami.
Sayangnya, saya masih sekolah PPDS dan waktu kosong yang tersedia amatlah singkat. Sebenarnya ketika sekolah, saya sering bepergian sendiri kemana-mana, bahkan hingga ke kota Solo, tapi karena ini tentang naik gunung, maka saya tetap ngeri karena masih awam. Namun, minggu lalu saya akhirnya memutuskan untuk mendaki gunung yang katanya paling ringan untuk pemula.
Namanya Gunung Andong di Magelang (Ada yang bilang artinya “andongoo” atau berdoa kepada Tuhan, ada juga yang bilang artinya punggung sapi karena mirip). Mungkin buat banyak orang, pengalaman ini tidak sehebat naik ke Mahameru, tapi buat saya yang tidak bugar-bugar banget, hal ini sudah sangat menyenangkan.
Dari kost saya di Yogyakarta, saya berangkat naik bus seharga 10 ribu hingga tiba di terminal Tidar Magelang. Lalu naik bus lain ke arah Salatiga. Karena takut nyasar, saya dua kali bilang ke mas-mas kondekturnya untuk tidak lupa menurunkan saya di dekat Andong. Setelah turun di titik yang diarahkan, saya naik ojek hingga tiba di kawasan pendakiannya.
Saat tiba, tampak memang bahwa guung ini memang cocok untuk pemula seperti saya. Tadinya mau mencoba menginap langsung, tapi karena ingat tesis, jadi harus diurungkan niat itu.
Ketika memulai perjalanan pendakian, saya salah akan dua hal. Pertama, karena dibilang gunung ini untuk pemula, saya kira perjalanan akan berlangsung santai saja. Namun, rupanya baru naik sebentar saja, saya sudah kehabisan napas. Buru-buru saya sudah istirahat makan mie instan di kantin terdekat.
Lalu, saya salah juga untuk hal kedua. Saya kira karena ini hanya gunung yang rendah, maka pemandangan akan biasa saja. Rupanya saya salah lagi, pemandangannya rupanya indah. Vegetasi hijau di bawah ramai tapi terasa terik. Naik sedikit mulai sejuk dihiasi pohon pinus. Makin ke atas, rupanya saya berjalan ditemani awan-awan. Sungguh ini kali pertama saya dikelilingi kabut dan awab. Belum pernah saya berjalan di ketinggian semacam ini.
Saya juga baru tahu bahwa ketika sedang mendaki, maka para pendaki yang duluan sampai dan dalam perjalanan turun akan berkali-kali mengatakan: “semangat mas”. Senang rasanya.
Akhirnya, saya tiba di puncak. Kondisinya sedang, tidak begitu ramai, tapi tidak bisa dibilang sepi juga. Di atas saya ngobrol dengan beberapa orang yang sedang mendaki. Responnya hampir sama: “Hah? Mas-nya sendirian aja? Ngapain?” Kemudian saya jadi berfoto juga bersama orang-orang yang bersama di puncak tadi. Kalau dipikir, lucu juga ya. Mengobrol. Tertawa. Seolah sudah teman lama, padahal mungkin hampir pasti setelah ini, kami tidak akan ketemu lagi.
Masih ada salah saya yang ketiga. Saya kira, naik pasti susah, tapi semacam turun tangga, pasti menuruni gunung adalah hal yang mudah. Rupanya saya salah karena menuruni gunung butuh konsentrasi yang luar biasa kalau tidak mau terperosok ke jurang. Saya sampai jatuh dua kali selama proses turun gunung sampai hampir takut kenapa-kenapa. Ohya, saat turun, saya juga ikut sok-sokan kasih semangat untuk mereka yang baru naik. Hahaha.
Akhirnya ketika sampai di bawah. Saya lega perjalanan ini selesai juga. Pada akhirnya, setidaknya dalam hidup ini, saya sudah pernah merasakan naik gunung. Saya sudah bisa men-checklistgoal ini dari daftar hidup saya. Setelah ini, saya balik lagi harus menyelesaikan sekolah, mungkin menikah, mungkin jadi bapak, hingga tampaknya tidak sempat lagi menaiki gunung lain yang lebih serius.
Sore hari, saya langsung bertemu pacar saya lalu lanjut mengerjakan tesis di Jalan Kaliurang. Sore itu saya biasa saja. Malam itu saya tidur nyenyak. Besok pagi, baru badan saya nyeri-nyeri bukan main. Sungguh kebahagian yang melelahkan.
Demikian catatan perjalanan saya selama naik gunung.
Salam dari saya, cowok ber-sweater kuning di atas gunung! 👋🏻