Beberapa waktu lalu, salah satu keinginan saya, yang sudah lama direncanakan, akhirnya bisa terlaksana: naik gunung!

Saya selalu amazed dengan orang-orang yang sering mendaki gunung. Dengan sungguh-sungguh, saya mendengarkan teman saya seperti Faiz Farhan dan Anindito Baskoro bercerita mengenai pengalaman mendakinya. Mulai dari napas yang tersengal, kedinginan luar biasa, jalan mendaki yang mematikan, jalan menurun yang mematikan juga, hingga cerita-cerita ajaib yang mereka alami.

Sayangnya, saya masih sekolah PPDS dan waktu kosong yang tersedia amatlah singkat. Sebenarnya ketika sekolah, saya sering bepergian sendiri kemana-mana, bahkan hingga ke kota Solo, tapi karena ini tentang naik gunung, maka saya tetap ngeri karena masih awam. Namun, minggu lalu saya akhirnya memutuskan untuk mendaki gunung yang katanya paling ringan untuk pemula.

Namanya Gunung Andong di Magelang (Ada yang bilang artinya “andongoo” atau berdoa kepada Tuhan, ada juga yang bilang artinya punggung sapi karena mirip). Mungkin buat banyak orang, pengalaman ini tidak sehebat naik ke Mahameru, tapi buat saya yang tidak bugar-bugar banget, hal ini sudah sangat menyenangkan.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkgwo0IzdpP_1hy6y5uRzf6BVKTne_zldcsKr-YeBMBNXS_lfOiyejFFN_0_zNQ6P3MIJxV0mjCA3hyphenhypheniI3cS8rU9ZYEm7vUbN8ummpZfEoulTJlhBwkb242PITlvPpZtSK3GVoMOAqM_4/s1280/1BDD60AF-47D5-4FB1-9939-152E7CD229D2.jpeg

Dari kost saya di Yogyakarta, saya berangkat naik bus seharga 10 ribu hingga tiba di terminal Tidar Magelang. Lalu naik bus lain ke arah Salatiga. Karena takut nyasar, saya dua kali bilang ke mas-mas kondekturnya untuk tidak lupa menurunkan saya di dekat Andong. Setelah turun di titik yang diarahkan, saya naik ojek hingga tiba di kawasan pendakiannya.

Saat tiba, tampak memang bahwa guung ini memang cocok untuk pemula seperti saya. Tadinya mau mencoba menginap langsung, tapi karena ingat tesis, jadi harus diurungkan niat itu.

Ketika memulai perjalanan pendakian, saya salah akan dua hal. Pertama, karena dibilang gunung ini untuk pemula, saya kira perjalanan akan berlangsung santai saja. Namun, rupanya baru naik sebentar saja, saya sudah kehabisan napas. Buru-buru saya sudah istirahat makan mie instan di kantin terdekat.

Lalu, saya salah juga untuk hal kedua. Saya kira karena ini hanya gunung yang rendah, maka pemandangan akan biasa saja. Rupanya saya salah lagi, pemandangannya rupanya indah. Vegetasi hijau di bawah ramai tapi terasa terik. Naik sedikit mulai sejuk dihiasi pohon pinus. Makin ke atas, rupanya saya berjalan ditemani awan-awan. Sungguh ini kali pertama saya dikelilingi kabut dan awab. Belum pernah saya berjalan di ketinggian semacam ini.

Saya juga baru tahu bahwa ketika sedang mendaki, maka para pendaki yang duluan sampai dan dalam perjalanan turun akan berkali-kali mengatakan: “semangat mas”. Senang rasanya.

Akhirnya, saya tiba di puncak. Kondisinya sedang, tidak begitu ramai, tapi tidak bisa dibilang sepi juga. Di atas saya ngobrol dengan beberapa orang yang sedang mendaki. Responnya hampir sama: “Hah? Mas-nya sendirian aja? Ngapain?” Kemudian saya jadi berfoto juga bersama orang-orang yang bersama di puncak tadi. Kalau dipikir, lucu juga ya. Mengobrol. Tertawa. Seolah sudah teman lama, padahal mungkin hampir pasti setelah ini, kami tidak akan ketemu lagi.

Masih ada salah saya yang ketiga. Saya kira, naik pasti susah, tapi semacam turun tangga, pasti menuruni gunung adalah hal yang mudah. Rupanya saya salah karena menuruni gunung butuh konsentrasi yang luar biasa kalau tidak mau terperosok ke jurang. Saya sampai jatuh dua kali selama proses turun gunung sampai hampir takut kenapa-kenapa. Ohya, saat turun, saya juga ikut sok-sokan kasih semangat untuk mereka yang baru naik. Hahaha.

Akhirnya ketika sampai di bawah. Saya lega perjalanan ini selesai juga. Pada akhirnya, setidaknya dalam hidup ini, saya sudah pernah merasakan naik gunung. Saya sudah bisa men-checklist goal ini dari daftar hidup saya. Setelah ini, saya balik lagi harus menyelesaikan sekolah, mungkin menikah, mungkin jadi bapak, hingga tampaknya tidak sempat lagi menaiki gunung lain yang lebih serius.

Sore hari, saya langsung bertemu pacar saya lalu lanjut mengerjakan tesis di Jalan Kaliurang. Sore itu saya biasa saja. Malam itu saya tidur nyenyak. Besok pagi, baru badan saya nyeri-nyeri bukan main. Sungguh kebahagian yang melelahkan.

Demikian catatan perjalanan saya selama naik gunung.

Salam dari saya, cowok ber-sweater kuning di atas gunung! 👋🏻

Posted in

Leave a comment