
Beberapa hari ini, saya sedang sakit. Sudah menjadi kebiasaan di keluarga kecil saya bahwa ketika saya sedang sakit, daripada menularkan penyakit saya ke istri yang sedang hamil dan anak pertama kami, maka saya memutuskan tidur terpisah dulu di kamar yang berbeda biar tidak berinteraksi dulu dengan mereka.
Pada beberapa hari yang padahal singkat ini, dalam kesepian dan kesunyian, pikiran saya jadi kemana-mana. Namun, bukan berandai tentang masa depan seperti yang dilakukan ketika muda dulu, tetapi mencoba mengeluarkan kembali rekaman-rekaman tentang masa lalu dan bagaimana diri saya ketika muda dulu. Murakami mungkin benar bahwa “memories are maybe the fuel we burn to stay alive“, tapi saya baru menginjak 34 tahun. Sudah waktunya kah berada pada fase ini?
Mungkin ini pikiran-pikiran bawah sadar yang memohon untuk dikeluarkan kepada diri sendiri. Memutar rekaman masa lalu tadi, saya jadi sedih sendiri mengingat bahwa saya kini kurang piawai untuk tidur dengan baik, padahal dulu (bahkan ketika sekolah spesialis) saya tidur amat teratur; saya juga sedih ketika mengingat hanya 1-2 buku cerita yang saya baca tiap tahunnya, padahal bisa puluhan di masa lalu; menulis sudah tidak usah ditanya, pasti sangat jarang; dan tentunya bertemu teman-teman baik yang sudah bertahun-tahun tidak dijalankan. Suram.
Namun, rasa suram ini tampaknya tertutup oleh keseharian dalam tahun-tahun belakangan. Mungkin ini yang dinamakan menjadi dewasa. Setiap hari saya bangun pagi, bekerja di tempat satu untuk pindah ke tempat lainnya, lalu lanjut kuliah, kemudian tidur untuk masih mengamati laporan pekerjaan. Kini, tidak ada lagi fiksi. Yang ada adalah realitas tentang butuh uang, cari uang, beri uang, sediakan waktu untuk keluarga, berbakti pada orang tua, dan segala macam masalah yang solusinya ada di realita. Setiap hari adalah kejar-kejaran. Dan setiap akhir pekan adalah mengejar waktu untuk orang lain.
Malam ini saya merindukan membaca. Merindukan menulis. Dulu, kegiatan ini adalah pelarian dari hidup susah yang saya alami. Fiksi juga jadi pelarian saya dari sekolah yang harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan penuh eksakta.
Terlebih dari pada itu, saya rindu juga sama diri sendiri.
Baik-baik ya, Damar.
Leave a comment