Saya masih ingat betul bahwa semua dimulai di tahun 2010. Pada tahun tersebut, saya sungguh rajin baca buku. Pada masa itu pula, pikiran masih jernih dan kosong sehingga mudah sekali dirasuki berbagai ide-ide baru, syukurnya ide-ide yang bagus dari buku-buku. Di periode tersebut juga, sungguh hidup saya susah. Tampaknya saya adalah satu-satunya mahasiswa kedokteran di kelas saya yang tidak punya laptop serta makan kadang pakai kerupuk. Wah, terbayang kan saya jadi punya banyak keinginan dan cita-cita di kala itu.

Tahun 2010 itu akhirnya saya membuat #lifegoal saya di sebuah kertas besar. Teman sekamar saya jadi saksi tentang impian-impian yang saya tulis di kertas tersebut. Bahkan luar biasanya, setahun lalu saya menemukan kertas tersebut dan terkekeh sendiri mengingat betapa lucunya saya. Namun, di sisi lain sungguh saya disadarkan pula ketika teman sekamar saya itu bilang: “Bersyukur ya, Dam. Impianmu sudah banyak yang terwujud”.

Di kertas #lifegoal itu, ada puluhan keinginan yang saya tulis. Ada keinginan mulia seperti menyelesaikan Alquran serta memahami isinya, pergi haji di usia 40 tahun, dan salat tepat waktu. Ada pula keinginan punya barang seperti: punya motor (entah mengapa saya tidak menulis punya mobil karena dulu saya berpikir tidak butuh mobil), punya kamera, pergi ke bali, dan pergi ke luar negeri. Tentu pula ada keinginan-keinginan signifikan seperti lulus cumlaude, jadi duta muda asean (dulu ada pemilihan ini haha), menerbitkan artikel di jurnal, jadi spesialis sebelum usia 30 tahun, dapat beasiswa, atau bahkan jadi abang none.

Ajaibnya, meski ada yang belum tercapai, ada yang tak mungkin tercapai, dan ada yang meleset tercapai, sungguh Tuhan mendengar doa-doa yang saya tulis. Ajaib karena kalau dipikir-pikir tampaknya semuanya tak mungkin tercapai tanpa kuasa-Nya.

Ketika dikaitkan dengan buku-buku yang pernah saya baca, dikatakan bahwa menulis cita-cita kita tampaknya membuat kita sungguh-sungguh memikirkannya dan pada akhirnya secara sadar atau bawah sadar membuat kita mengupayakannya. Pada kasus hidup saya kemarin-kemarin, hal ini mungkin ada benarnya ya.

Kini, di tengah saya yang sudah dewasa, saya jadi berpikir-pikir, “Duh, masa saya harus menulis-nulis demikian lagi?”. Namun, ketika merefleksikan pikiran saya yang seolah otopilot karena kesibukan sehari-hari, mungkin memang ada baiknya ditulis-tulis lagi meski tampak picisan. Siapa tau, saya jadi lebih jelas untuk menentukan: sebenarnya apa lagi yang ingin saya kejar.

Malam ini, saya mau mencoba menerka-nerka dan berpikir dalam tentang jawaban dari pertanyaan itu. Esok lusa atau suatu nanti, mungkin saya coba tuliskan tentang hal tersebut.

Selain kesehatan dan ketenangan, kiranya apalagi?

Posted in

Leave a comment