Puluhan tahun hidup, memberi kesimpulan bahwa saya senang dengan bulan puasa. Pengalaman-pengalaman masa lalu mengenai bulan puasa rata-rata menyenangkan. Ketika kecil, ada hari libur. Ketika SMA, banyak acara buka puasa dengan teman-teman. Ketika sekolah di Jogja, setiap tahun saya dan angkatan punya agenda buka puasa yang seru dan intimate sekali. Di Jogja juga, senang rasanya saya dan istri dulu rutin hunting hotel untuk berbuka puasa karena harganya yang ekonomis. Ketika kerja di Puskesmas juga, bulan puasa menyenangkan karena jam pulang kerja jadi lebih cepat sehingga bisa keluyuran main tanpa kemacetan. Sungguh, bulan puasa menyenangkan.
Namun, dengan jujur mengatakan, hari raya berkesan berbeda dengan bulan puasa. Pengalaman-pengalaman masa lalu mengenai hari raya membuat saya kurang nyaman menjalaninya. Sewaktu kecil, tentu melelahkan kesana kemari bertemu ratusan orang. Cara keluarga besar memperlakukan juga membuat saya kurang nyaman menjalani hari-hari itu. Belum lagi tentang jadi rebutan tentang “mau menghabiskan hari raya dimana?” karena kedua orang tua saya berpisah sehingga ada dua keluarga besar yang harus dikunjungi. Alhasil, lelah.
Oleh karenanya, ketika empat tahun bersekolah dulu, saya tidak pernah pulang ke Jakarta pada hari raya dan baru berkunjung setelah hari raya tersebut selesai. Istri saya cukup menyadari bahwa ketika hari raya semakin dekat, kadang saya jadi agak was-was. Berbeda sekali dengan dirinya yang senang sekali dengan hari raya dan menanti-nanti berkumpul dengan keluarganya.
Namun, yang namanya hidup sebagai orang dewasa tentu jadinya tidak semata-mata tentang hidup sendiri. Saya masih jadi anak dari orang tua saya, sehingga tentu saya masih harus menemani beliau bertemu keluarga besarnya. Saya juga kini seorang suami, sehingga harus menemani istri berjumpa dengan keluarganya. Saya tidak benci hari raya, hanya ada sedikit perasaan tidak nyaman yang bersumber dari pengalaman-pengalaman lampau tadi.
Apa yang terjadi pada hari raya tahun ini?
Pertama-tama, kami kesiangan bangun sehingga tidak jadi ikut salat ied.
Kedua, tentu foto keluarga yang mandatory dengan baju lebaran yang istri sudah siapkan sebulan lalu. Saya senang lihat dia semangat memilih baju untuk sekeluarga dan jadinya ikut kasihan juga karena tidak semua baju akhirnya terpakai karena anak bungsu kami sakit sehingga kami putuskan tidak bepergian di hari kedua lebaran.

Ketiga, saya sempat-sempatnya visit pasien terlebih dahulu ke rumah sakit karena ada pasien yang butuh penanganan dan di hari kedua lebaran masih harus menangani bayi baru lahir. Ketika di jalan, ban mobil pecah di jalan tol. Sempat panik beberapa menit, tapi untungnya bisa ditangani dengan meninggalkan mobil di mall terdekat untuk malamnya datang lagi bersama teknisi (saya lumayan amazed bahwa saya bisa tenang mengatasinya).


Keempat, saya pergi ke PIM dimana keluarga besar saya berkumpul. Sungguh, saya tampaknya di kemudian hari akan mencontoh ritual keluarga ibu saya dimana kumpul Idulfitri dilakukan di restoran besar mall saja sehingga tentu urusan-urusan domestik jadi tidak begitu repot selayaknya di rumah.

Kelima, mulai hari kedua, saya menghabiskan banyak waktu bersama dengan keluarga saya. Sungguh momen yang membahagiakan karena jadwal poli saya libur dan jadwal kantor saya juga libur. Hanya ada beberapa momen visit pasien ke rs. Sisanya, bercanda habis-habisan sama anak dan istri. Sungguh momen mahal dan tampak sekali istri serta anak saya senang bukan main bapaknya libur.
Demikian hari raya 2025 saya.
Selamat Idulfitri untuk teman-teman sekalian.
Mohon maaf lahir batin.
Semoga teman-teman sekalian (dan saya) diberikan pengalaman-pengalaman yang menyenangkan di bulan puasa dan hari raya.
Leave a comment